Bukittinggi
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Achmad Mochtar (RSAM) memberikan klarifikasi resmi terkait video viral yang berisi keluhan keluarga pasien yang merasa lambat ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSAM.
Direktur RSAM, Busril, Rabu (12/8/2026) menegaskan bahwa petugas dan dokter di IGD telah bekerja sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Ia menyatakan bahwa anggapan tidak adanya tindakan medis terhadap pasien adalah tidak benar, karena dokter langsung mendatangi pasien untuk melakukan asesmen serta memastikan kondisi pasien masuk dalam kategori status kuning.
Status tersebut menandakan prioritas kedua di mana pasien memerlukan perawatan segera, namun penanganannya masih dapat ditunda beberapa saat karena berada dalam kondisi stabil.
Berdasarkan rekaman CCTV, pasien anak perempuan tersebut tiba di IGD diantar oleh keluarganya pada pukul 12.30 WIB dan memaksa keluar pada pukul 13.40 WIB.
Pihak rumah sakit memahami kecemasan yang dirasakan oleh orang tua pasien, sehingga pasien sempat ditempatkan di ruang terpisah agar terhindar dari trauma berada di antara pasien gawat darurat lainnya.
Busril menjelaskan bahwa penundaan tersebut terjadi karena prosedur tindakan luka jahit memerlukan sterilisasi alat terlebih dahulu yang dipesan melalui Central Sterile Supply Department (CSSD).
"Order sudah dilakukan, dokter tentu melakukan tindakan terukur dan kehati-hatian. Namun ternyata orangtua pasien tidak bisa menunggu lebih lama," ujar Busril.
Karena orang tua pasien memaksa keluar, pihak dokter tetap memproses pembatalan agar pasien dapat berobat ke rumah sakit lain dengan menggunakan layanan BPJS.
Sementara itu, dokter IGD yang menangani pasien, dr. M. Rafky, menjelaskan bahwa ia telah berkomunikasi secara baik dengan pihak keluarga sejak awal kedatangan.
Saat diperiksa, luka robek pada dagu pasien dalam kondisi bersih tanpa ada perdarahan aktif dan memerlukan dua hingga tiga jahitan.
dr. Rafky menyebutkan bahwa seluruh kebutuhan alat dan obat jahit telah diinput dan dipesan melalui Rekam Medis Elektronik (RME) agar siap digunakan begitu proses sterilisasi alat selesai.
Namun, di tengah persiapan tersebut, kondisi IGD sedang padat dan mengalami chaos akibat adanya rujukan dari rumah sakit lain serta beberapa pasien tidak stabil yang harus diprioritaskan penanganannya.
Menurut dr. Rafky, anak pasien sempat menangis karena ketakutan bayangan akan dijahit, sementara komunikasi dengan pihak keluarga sebenarnya sempat berjalan baik sebelum akhirnya keluarga memutuskan untuk meninggalkan IGD.



Emoticon